touring goes to baduy luar – sawarna – cisolok – karang hawu

 

Kamis, 18/10/07

Pukul 09:00 (Km. 0) dengan berbekal satu kotak Aqua gelas, 6 botol Mizone, 2 bungkus besar kacang kulit, dan 60 butir kue Unyil “Venus” kami berenam (Theo, Rondi, Gunawan, Rohim, Ridlo dan Setyo) memulai petualangan di sisa hari libur Lebaran dengan mobil Kijang dari Jl. M. Sholeh Iskandar (Jl. Baru) – Bogor menuju tempat bermukimnya orang Baduy.

 

Rute yang kami lalui adalah Darmaga – Cibatok (Km. 17) – Leuwiliang (26) – Gudawang (39) – Jasinga (45) – Cipanas (58) dimana terdapat pemandian air panas Tirta Lebak Lestari dan sepanjang jalan yang dilalui di kanan kiri jalan terdapat pohon-pohon kelapa sawit dan karet yang dikelola PTP VIII Cisungka, selanjutnya kami mengambil rute Cimanggu – Sidodol – Cibeurih – Muncang (Km. 72).

 

Ada pengalaman unik dari Rondi – sang ‘driver’ kita sewaktu berada di Kp. Sindangreret, Desa Cisimeut. Ternyata dia telah melalui daerah ini sebanyak 3 kali, namun memorinya baru pulih setelah melalui jembatan besi berwarna kuning. Kami singgah di sebuah rumah panggung dimana kami disuguhi air kelapa muda dengan imbuhan gula aren yang benar-benar menyegarkan tenggorokan dan menghilangkan perut mual akibat jalanan yang naik turun dan berbelokan tajam.

 

Pukul 13:00 (Km. 82) kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Ciboleger yang merupakan salah satu pintu keluar yang menghubungkan warga Baduy dengan dunia luar. Minibus umum (dari Terminal Cibologer) yang melayani penumpang untuk kembali ke Rangkasbitung terakhir berangkat pukul 14:00 WIB dan baru ada kembali pukul 02:00 keesokan harinya. Di sebuah warung kecil kami beristirahat makan siang ditemani ikan mas/ayam goreng ditemani sambal uleg dan lalapan mentimun.

 

Pukul 14:00 kami menyusuri sepanjang 2 Km. menuju kawasan Baduy Luar dengan melewati Kampung Kadu (=duren) Keutug – Kampung Balingbing – Kampung Babakan Marengo – Kampung Gajeboh. Perjalanan memakan waktu pulang pergi selama 2 jam dengan kondisi jalanan tanah naik turun bukit dirindangi oleh pepohonan dan pemandangan alam yang memesonakan mata. Banyak lumbung-lumbung padi milik penduduk Baduy Luar yang berisikan beras yang tersimpan selama berpuluh-puluh tahun. Binatang peliharaan yang dapat ditemui hanya ayam kampung, tanpa ada hewan berkaki empat (kerbau, sapi, kambing). Butir-butir gabah (bukan benih) ditanam di bukit dengan sistem sawah tadah hujan dan padi gogo. Perjalanan berakhir di Gajeboh yang ditandai dengan jembatan kokoh yang terbuat dari bambu yang melintasi Sungai Ciujung. Rohim dengan julukan barunya Jaro Roim berpose dengan ikat kepala biru dan baju hitam khas Baduy berpose dengan latar belakang jembatan tersebut.

 

Berikut beberapa catatan penting yang kami sarikan dari berbagai sumber.

  • Lokasi Desa Kanekes, Kec. Lewidamar berjarak sekitar 75 Km. di selatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.
  • Desa Kanekes memiliki 56 kampung Baduy. Orang Baduy Dalam tinggal di Kampung Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo. Sedangkan orang Baduy Luar tinggal di 53 kampung lainnya.
  • Desa Kanekes sampai sekarang masih saja tetap gulita di waktu malam tanpa ada sekolah bagi anak-anak.
  • Rumah terbuat dari tiang dan rangka dari kayu, dinding dari anyaman bambu dan beralaskan tanah.
  • Pakaian yang digunakan oleh masyarakat Baduy Luar baju hitam dan kebaya hitam atau biru tua bagi warga Baduy Luar.
  • Agama orang Baduy adalah Sunda Wiwitan yang dipimpin oleh kepala adat sekaligus ulama disebut puun yang menunjuk seorang Kepala Desa (Jaro)
  • Orang Baduy mengandalkan pertanian (pisang, kelapa, durian, dan gula aren) dan menjual hasil kerajinan tangan khas, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup), tenun selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung, serta golok/parang.
  • Orang Baduy Dalam pantang bercerai setelah menikah. Mereka juga tak boleh berpergian memakai kendaraan.
  • Tidak ada keserakahan di masyarakat Baduy. Yang ada adalah hidup rukun dan damai dalam suasana penuh kegotongroyongan dan saling menolong. Jika ada salah satu yang hidup kesusahan, warga lainnya pasti akan menolongnya.

 

Pukul 16:30 (Km. 88) kami meninggalkan Terminal Ciboleger untuk menuju Kota Kecamatan Bayah. Menurut apa yang terlihat di peta perjalanan Banten & Carita yang kami  miliki, seharusnya jarak terdekat untuk menuju kesana adalah dengan melalui rute Citorek – Ciherang – Bayah. Namun menurut Mang Acip yang memandu kami selama perjalanan menuju ke Desa Gajeboh, sebaiknya rute yang dilalui adalah melalui Bojongmanik – Cigintung – Malingping – Bayah. Jalan yang kami lalui naik turun bukit, terkadang diselipi jalanan buruk sehingga mobil berjalan pelan, namun selepas Malingping jalanan begitu mulus dimana sisi kanan adalah lautan lepas Samudra Hindia yang menggelora.

 

Pukul 20:30 (Km. 182) kami sampai di pertigaan dimana terdapat papan penunjuk Cikotok 14 Km / Pantai Sawarna 19 Km. Gunawan sebelumnya telah mengontak salah seorang mahasiswa STIE Perbanas (angkatan 2002) bernama Andri Firmansyah untuk bertemu di pertigaan jalan. Tidak lama Andri dan kawannya muncul dengan sedan Kia Carens-nya. Kemudian atas undangan Andri, kami berkunjung ke rumah orangtuanya di Kp. Warung Kurupuk, Desa Pasir Gombong (Km. 195). Jalan menuju Cikotok sangat berliku namun mulus, mobil dipacu sangat kencang membuat penumpang yang duduk di belakang terguncang keras, namun berkat kepiawaian Bang Rondi, kami dapat tiba dengan selamat pada pukul 21:30. Kami disambut oleh Ibu/Bapak Sahrudin yang ramah dan cepat akrab. Beliau adalah pensiunan PT Aneka Tambang yang berkedudukan di Cikotok, adiknya pun pensiunan Polri yang beralih menjadi Kepala Desa. Badan yang letih dan penat akibat seharian berjalan ke Gajeboh terasa segar setelah kami mandi dan kemudian menyantap hidangan nasi hangat dan lauk rendang/ikan mas goreng plus emping. Kami sempat mengobrol ngalor ngidul sampai pukul 24:00 dan akhirnya kami tertidur pulas walau hanya sesaat.

Jumat, 19/10/07

Pukul 05:30 kami sudah bangun dan menikmati segarnya udara pagi. Ibu Sahrudin ternyata telah menyiapkan hidangan pagi berupa kopi Moccacino ditemani kue brownies keju dan singkong goreng yang gurih dan empuk.

Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, kami berangkat melanjutkan perjalanan dengan sejenak mengunjungi eks PT Antam yang sekarang dikelola swasta dengan operasional produksi yang tidak maksimal akibat potensi emas Cikotok yang menyurut tajam.

 

Pukul 08:30 kami sampai di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bayah (Km. 214), Andri membeli beberapa ekor ikan untuk dibakar nantinya. Pantai Pulo Manuk kami lewati untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Desa Sawarna (Km. 228). Akses jalan menuju lokasi ini cukup buruk terutama tepat di tikungan dan jalanan yang menurun sangat tajam, perlu kewaspadaan ekstra dan tentunya kehandalan dalam mengemudi.

 

Tepat dipintu masuk menuju desa tersebut (pukul 09:00) terpampang tulisan “Selamat Datang di Desa Wisata Sawarna”, jembatan besi merupakan awal perjalanan menuju Desa Sawarna yang melintasi Sungai Cisawarna. Hamparan sawah yang menghijau menambah pesona Sawarna. Tidak ada penginapan mewah, hanya ada beberapa homestay kecil sebagai tempat menginap.

Setelah menelusuri perkampungan, akhirnya kami sampai di Pantai Teluk Ciantir dimana lautan luas pantai ini adalah Samudera Hindia. Tidak ada hamparan pulau–pulau membuat gelombang ombak laut dengan senangnya memperlihatkan gulungan–gulungan ombaknya yang membuat hati para turis bertandang ke lokasi ini.

Saat menyusuri pinggiran pantai yang berkarang, sampah di pinggir pantai hanya ganggang laut, kulit kerang dan batok kelapa kering. Di sini, tak kami temui sampah plastik yang mengindikasikan jarang sekali orang datang ke tempat ini.

Berjalan ke arah timur, terdapat satu lagi potensi wisata Desa Sawarna, yakni Pantai Tanjung Layar. Panorama Tanjung Layar ini dikelilingi oleh karang laut yang berdiri tegak seperti pagar laut. Dua buah hamparan karang laut yang berdiri memanjang seakan membatasi dan melindungi pengunjung yang datang dan melihat lebih dekat tebing menjulang yang disebut tanjung layar yang mencuat terkembang bak layar kapal.

Tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 11:30 dan panas matahari begitu menyengat. Kami segera bergegas menuju Pantai Pulo Manuk kembali dimana teman-teman menyempatkan untuk sholat Jumat, begitu pula dengan Andri dkk. yang sudah ditunggu oleh rekan-rekannya.

 

Pukul 13:00, Andri membakar ikan-ikan (kakap merah, layur, dan salam) yang tadi dibeli di TPI Bayah. Setengah jam kemudian ikan bakar sudah tersaji walau hanya dibakar dengan cara sederhana, namun sambal merah dan kecap membuat kami cepat menyantapnya hingga tuntas akibat perut yang sudah sangat lapar. Terima kasih adik-adik atas bakaran ikannya. Sungguh momen ini tidak akan terlupakan.

 

Pukul 14:30 (Km. 234), kami meninggalkan Desa Sawarna yang memesona untuk melanjutkan perjalanan menuju Cisolok. Kami melintasi perbatasan Banten – Jabar (Km. 265), kemudian menyusuri jalan mulus namun berbahaya (naik turun dan berkelok tajam), kami sempat berhenti di ketinggian memandang dari kejauhan Pantai Cibangban, cuaca mendung menggantung di awan mengurangi keelokan pesona pantai.

 

Perjalanan dilanjutkan hingga sampai di pertigaan (pukul 16:00), lurus menuju Pelabuhan Ratu, sedangkan kami mengambil jalur kiri menuju lokasi pemandian Air Panas Cisolok berjarak 2 Km. Retribusi oleh Pemda (sebesar Rp2.000/orang) sudah ditarik beberapa ratus meter sebelum lokasi. Setibanya di lokasi terlihat sumber air panas yang memancar langsung dari perut bumi atau dikenal dengan istilah geyser. Setidaknya terdapat tiga lokasi geyser yang biasa dimanfaatkan untuk mandi. Tentu saja tidak langsung mandi dari pancuran air itu, tetapi dari cipratan air panas yang turun kembali ke bumi setelah dipancurkan ke udara setinggi antara 5 sampai 7 meter.

Air panas dengan suhu antara 40 sampai 50 derajat dan mengandung belerang itu diyakini banyak pengunjung berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Mulai dari penyakit-penyakit yang berkaitan dengan kulit, rematik, asma, jantung, sampai lemah syahwat pada kaum pria.

Sumber air panas itu dimanfaatkan dengan membuat kolam renang air panas dan kolam rendam di dalam ruangan kamar. Namun, jangan mengharapkan sebuah tempat pemandian air panas yang tertata rapi seperti di Sari Ater – Subang atau Cipanas – Garut. Harga tiket masuk ke kolam renang (Rp2.000/orang), kolam rendam (Rp10.000/orang) atau terapi pijat air panas (Rp30.000/orang). Terapi pijat air panas tersebut dengan cara menyemprotkan air panas ke sekujur tubuh, terutama di bagian yang sering terasa pegal linu. Pengunjung bisa menikmati pijatan di sekujur tubuh hingga merasakan badan terasa ringan, terutama kami yang telah melewati perjalanan nan jauh dan melelahkan.

Pukul 18.00 (Km. 274), kami melanjutkan petualangan terakhir kami dengan singgah di Karang Hawu – Pelabuhan Ratu. Tepat di bibir pantai ada Gunung Winarum,  banyak pengunjung yang datang untuk berziarah ke makam Eyang Rembang Sanca Manggala, Eyang Lendra Kusumah, Eyang Jalak Matamakuta, dan Syekh Hasan Ali, ulama besar dari Banten yang mengatur penyebaran ajaran agama Islam di daerah selatan Sukabumi.

Terdapat kompleks makam yang sekilas bangunan itu tak ada bedanya dengan tempat tinggal penduduk setempat. Namun, begitu memasuki ruangan, nuansa mistis langsung terasa. Dinding ruangan itu dihiasi sebuah lukisan besar yang menggambarkan sosok Nyi Mas Ratu Dewi Roro Kidul dan dayangnya Ibu Nyai Mayang Sari Naga Sari. Di tengah ruangan, tampak peraduan yang dikelilingi kelambu hijau. Sejumlah pengunjung terlihat tekun menerima wejangan dari sang juru kunci.

Konon ceritanya, Roro Kidul adalah putri dari Prabu Siliwangi yang menderita sakit berkepanjangan dan tidak kunjung sembuh. Sang Prabu berniat membunuhnya melalui tangan Sang Patih yang ternyata tidak tega, sehingga akhirnya Sang Putri di satu kesempatan menceburkan diri ke laut. Dari kedalaman laut sudah ada tangan yang menampa dan akhirnya menyembuhkan sakit Sang Putri, namun ada syarat yang harus dipenuhi, yakni Sang Putri hanya boleh tinggal di alam gaib dan tidak bisa kembali ke bumi.

Pukul 19:30 (Km. 280) kami meninggalkan Karang Hawu sebagai tujuan wisata terakhir. Kami sampai di pertigaan Cibadak (Km. 338) pukul 21.00 dan tiba kembali dengan selamat di Bogor (Km. 392) sekitar pukul 22.00 WIB. Kami menyempatkan santap malam dengan makan lele/ayam goreng plus nasi uduk.

Selesailah petualangan selama 2 hari yang melelahkan namun menyenangkan. Terima kasih kepada teman-teman atas kekompakan yang selalu terjaga dan terutama kepada Tuhan YME atas segala perlindungan dan penyertaanNya sepanjang perjalanan.

Semoga di lain waktu kita dapat berpetualangan dan mendapatkan pengalaman berkesan di tujuan wisata lainnya.

5 thoughts on “touring goes to baduy luar – sawarna – cisolok – karang hawu

  1. haha itu menuju ke akhirat gan,. kan kalau takut ke akhirat manusia hanya di rumah saja ,.. windri mah hayu aja kmn juga hehe,.. ayolah ke bali fik pake pesawat yah ,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s